Rektor UMI dinilai Otoriter, Memaksakan Pelantikan Dekan FKM

Akkareso.com|Makassar ;- Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI), Prof. Dr. H. Basri Modding, SE, M.Si, dinilai bersikap otoriter dengan melantik Dr. Suharni sebagai Dekan FKM UMI.

Pelantikan tersebut di gelar di Gedung Menara UMI jalan Urip Sumoharjo, Karampunang, Kec. Panakukang, Kota Makassar, pada Rabu (1/4/2020)

Dr. Suharni sendiri adalah merupakan salah satu dari tiga nama di FKM UMI yang maju sebagai calon Dekan, Namun belakangan Dr. Suharni telah memilih untuk mengundurkan diri dan membuat surat penguduran diri kepada panitia penjaringan bakal calon Dekan FKM UMI.

Terkait hal itu. Alumni FKM UMI, Abd Chayr, menilai sikap yang dilakukan oleh Rektor UMI dengan melantik Dr. Suharni adalah sikap yang otoriter karena telah melantik orang yang telah mengundurkan diri dari pencalonan.

“Rektor UMI pasti tahu bahwa Dr. Suharni bukanlah orang yang diusulkan atau pemilik suara mayoritas, saat penjaringan di panitia Senat FKM UMI dan tentu Rektor mengetahui bahwa Dr.Suharni telah mengundurkan diri. Namun yang anehnya kenapa Rektor melantiknya,” ucap Abd Chayr yang juga sebagai Ketua Bidang Pemberdayaan Umat Badko HmI SulSelbar, kepada tim redaksi Akkareso.com

Tak hanya itu. Ia juga menyatakan bahwa Rektor UMI, Prof. Dr. H. Basri Modding telah melanggar aturan yang di buatnya sendiri. Kata
Chayr, pada saat proses daftar
pencalonan dekan, Rektor terkesan terburu-buru dalam melakukan pelantikan dekan.

“Kalau sudah terjadi seperti ini bagi kami, Rektor UMI sangat otoriter dan tidak konsisten dengan aturan dan tahapan pelaksanaan penjaringan bakal calon Dekan yang ia tandatangani pada tanggal 24 Januari 2020. Ternyata ia sendiri yang melanggarnya. Pelantikan Dekan juga terkesan terburu-buru, entah apa yang merasuki pak Rektor” tegasnya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here